Wajah Teheran setelah saling serang Iran-Israel: antrean SPBU, jalanan padat, dan taman kota
Babak terbaru saling serang antara Iran dan Israel berlangsung singkat, hanya beberapa jam setelah kembali memanas pada Minggu (7/6/2026) malam kemarin.
Garda Revolusi Iran (IRGC) meluncurkan rentetan rudal ke Israel setelah serangan Israel ke wilayah pinggiran selatan Beirut yang, menurut Teheran, mengabaikan berbagai peringatan sebelumnya.
Sehari setelahnya, pada Senin sore, Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya, pusat militer Iran, kemudian mengumumkan penghentian operasi militer.
Di antara dua peristiwa tersebut, ibu kota Iran menjalani satu hari yang dipenuhi ketidakpastian.
Bukan hanya tentang perkembangan di medan konflik, tetapi juga bagaimana masyarakat sipil menjalani kehidupan sehari-hari ketika ancaman perang kembali menghampiri.
Untuk melihat situasi di lapangan, Al Jazeera Net melakukan pemantauan langsung di sejumlah kawasan Teheran pada pagi hari, saat sistem pertahanan udara diaktifkan, dan kembali pada sore hari setelah pengumuman penghentian operasi militer.
Gambaran yang muncul menunjukkan sebuah kota yang tetap bergerak, tetapi dengan kehati-hatian yang terasa di hampir setiap sudut.
Lalu Lintas Padat dan Kekhawatiran yang Tidak Terucap
Pada pagi hari, salah satu hal yang paling mencolok adalah kepadatan lalu lintas yang tidak biasa untuk hari kerja.
Polisi lalu lintas melaporkan kemacetan di sejumlah jalur utama yang menghubungkan Teheran dengan provinsi-provinsi utara, barat, dan barat laut, termasuk Jalan Chalus, Haraz, serta koridor Tehran-Karaj-Qazvin.
Meski demikian, pemerintah tidak mengumumkan penangguhan jam kerja maupun penutupan kantor pelayanan publik.
Aktivitas kota secara umum tetap berlangsung, berbeda dengan situasi yang terjadi pada 28 Februari ketika serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap kantor Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei memicu suasana darurat yang lebih nyata.
Namun, suasana tenang di ruang publik tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi psikologis masyarakat.
"Normal" yang Menutupi Kecemasan
Di pasar, pusat perbelanjaan, dan berbagai fasilitas umum, kehidupan terlihat berjalan seperti biasa.
Rak-rak toko tetap terisi penuh dan aktivitas jual beli terus berlangsung.
Siamak (58), pemilik toko kelontong di Jalan Hengam, Teheran timur, menggambarkan kondisi itu sebagai ketenangan yang rapuh.
"Ya, kami di sini, membeli dan menjual, tetapi percayalah, pikiran kami sama sekali tidak tertuju pada hal lain," katanya kepada Al Jazeera Net.
Menurut Siamak, ada sebagian pelanggan yang membeli barang karena rasa khawatir, bukan karena kebutuhan sehari-hari.
Meski demikian, peningkatan permintaan belum sebesar yang terjadi pada hari-hari awal konflik sebelumnya.
Ia juga mengakui bahwa perang memang dapat meningkatkan penjualan dalam jangka pendek, tetapi baginya hal itu tetap merupakan sebuah musibah.
"Perang adalah kutukan, bahkan ketika tampaknya meningkatkan penjualan kami," ujarnya.
Menariknya, pelanggan di tokonya tidak banyak mengeluhkan kenaikan harga seperti yang sempat terjadi pada beberapa pekan sebelumnya, dan aktivitas belanja juga tidak seramai pada fase awal perang terdahulu.
Pengalaman Lama Membentuk Sikap Warga
Camelia (37), seorang ibu dengan dua anak, mengatakan bahwa pengalaman menghadapi konflik sebelumnya membentuk cara keluarganya menyikapi situasi saat ini.
"Saya belajar dari perang-perang sebelumnya bahwa toko-toko di Iran tidak pernah kehabisan barang atau tutup, bahkan di bawah serangan dan penyerbuan yang paling hebat sekalipun," katanya.
Namun, ia tetap memilih membeli berbagai kebutuhan anak-anaknya sebagai langkah antisipasi apabila keluarganya harus meninggalkan Teheran.


0 Response to "Wajah Teheran setelah saling serang Iran-Israel: antrean SPBU, jalanan padat, dan taman kota"
Posting Komentar