Pasang Iklan Gratis

Takut Rusia, AS dilaporkan batal kirim rudal Tomahawk ke Jerman

 Jerman terancam kehilangan salah satu senjata yang paling mereka nantikan dari Amerika Serikat. Pentagon dilaporkan akan membatalkan pengiriman rudal jelajah Tomahawk ke Jerman karena khawatir Rusia akan menganggapnya sebagai langkah eskalasi yang berbahaya.

Keputusan itu berpotensi mengguncang pertahanan Eropa. Menurut sejumlah pejabat Eropa dan Amerika, Washington semakin khawatir bahwa penempatan rudal presisi jarak jauh di jantung Eropa dapat memicu respons keras dari Moskow.

Jika pembatalan itu benar terjadi, kesepakatan yang dirancang sejak pemerintahan Joe Biden akan berakhir sebelum sempat diwujudkan. Lalu, apa artinya bagi Jerman?

Artinya, Berlin harus menghadapi Rusia dengan perlindungan yang lebih tipis daripada yang mereka harapkan.

Rudal Tomahawk bukan senjata biasa. Rudal jelajah ini mampu menghantam sasaran lebih dari 1.600 kilometer jauhnya dengan tingkat presisi tinggi. Bagi para perencana militer Jerman, sistem tersebut merupakan bagian penting dari upaya membangun kembali kemampuan serangan jarak jauh yang selama bertahun-tahun melemah. Namun mengapa Washington tiba-tiba berubah pikiran?

Jawabannya mungkin tidak hanya berada di Eropa. Amerika Serikat baru saja menghabiskan ribuan rudal Tomahawk dan Patriot dalam operasi militernya terkait konflik Iran.

Menteri Pertahanan Pete Hegseth bahkan memperingatkan Kongres bahwa penggantian stok amunisi yang digunakan dapat memakan waktu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun. Dengan persediaan yang menyusut, apakah Washington kini lebih memilih menyimpan senjatanya sendiri?

Kekhawatiran itu semakin diperkuat oleh perubahan sikap Amerika terhadap NATO. Pekan ini, para pejabat militer Amerika memberi sinyal bahwa Eropa harus mulai mengambil tanggung jawab yang lebih besar atas pertahanannya sendiri.

Komandan tertinggi NATO Jenderal Alexus Grynkewich mengatakan Amerika akan "memfokuskan kembali" pasukan dan peralatannya ke wilayah lain, sebagaimana diberitakan Politico beberapa hari lalu.

Pesannya terdengar jelas. Era ketika Eropa dapat sepenuhnya bergantung pada payung militer Amerika tampaknya mulai berubah.

Berlin sudah lebih dulu merasakan dampaknya. Pada musim semi lalu, Pentagon membatalkan rencana pengerahan sekitar 5.000 tentara tambahan ke Jerman. Keputusan itu mengejutkan banyak pejabat Eropa yang selama ini melihat kehadiran pasukan Amerika sebagai simbol komitmen Washington terhadap keamanan benua tersebut. Jika pasukan dikurangi dan rudal tidak jadi dikirim, apa yang tersisa?

Pertanyaan itulah yang kini menghantui para pemimpin Jerman. Sementara Amerika khawatir memancing kemarahan Rusia, negara-negara Eropa harus hidup berdampingan dengan perang yang masih berkecamuk di Ukraina.

Dari Kaliningrad, Rusia telah lama menempatkan rudal Iskander yang mampu membawa hulu ledak nuklir. Dari Belarus, rudal jarak menengah Oreshnik dapat menjangkau sebagian besar wilayah Eropa hanya dalam hitungan menit.

Ancamannya bukan teori. Ancamannya sudah berada di peta militer Eropa hari ini. Menteri Pertahanan Jerman Boris Pistorius mengungkapkan bahwa Berlin telah mengajukan permintaan resmi untuk membeli rudal Tomahawk lebih dari satu tahun lalu. Namun hingga kini, permintaan tersebut belum mendapatkan jawaban yang jelas dari Washington.

Sementara itu, waktu terus berjalan. Para pejabat Jerman kini mulai mencari alternatif di dalam Eropa sendiri. Mereka menimbang pengembangan rudal baru, memperluas kerja sama industri pertahanan, hingga mempercepat produksi senjata jarak jauh bersama sekutu regional. Namun semua itu membutuhkan satu hal yang tidak mereka miliki dalam jumlah cukup: waktu.

Karena jika Amerika benar-benar mundur selangkah, Eropa mungkin harus berlari beberapa langkah sekaligus untuk menutup kesenjangan pertahanan yang selama ini ditopang oleh Washington.

Di tengah perang yang masih berkobar di perbatasan timurnya, itulah perlombaan yang tidak boleh mereka kalah.

Foto dari AL AS menunjukkan kapal perusak USS Porter (DDG 78) meluncurkan serangan darat dengan rudal jelajah tomahawk di Laut Mediterania, Jumat, 7 April 2017. - (Mass Communication Specialist 3rd Class Ford )

Rudal Tomahawk Jadi Ancaman Rusia

Bagi banyak orang, Tomahawk hanyalah nama sebuah rudal. Namun bagi Rusia, senjata ini merupakan salah satu simbol paling nyata dari kemampuan Amerika Serikat menyerang sasaran jauh di dalam wilayah musuh tanpa harus mengirim pasukan ke garis depan.

Itulah sebabnya Moskow memandang penempatannya di Eropa dengan penuh kewaspadaan.

Rudal Tomahawk dikenal sebagai rudal jelajah presisi tinggi yang mampu terbang lebih dari 1.600 kilometer sambil mengikuti kontur permukaan bumi. Berbeda dengan rudal balistik yang meluncur tinggi ke atmosfer, Tomahawk bergerak pada ketinggian rendah sehingga lebih sulit dideteksi radar. Dalam sejumlah operasi militer Amerika, rudal ini digunakan untuk menghantam pusat komando, pangkalan udara, gudang senjata, hingga fasilitas strategis musuh.

Artinya, satu peluncuran bisa mengubah jalannya pertempuran. Jika ditempatkan di Jerman, Tomahawk berpotensi menjangkau sebagian besar wilayah Eropa Timur, termasuk sejumlah target militer penting Rusia.

Inilah yang membuat Moskow selama bertahun-tahun menentang rencana pengerahan rudal jarak jauh Amerika di dekat perbatasannya. Mengapa Rusia begitu sensitif terhadap sistem seperti ini?

Jawabannya berakar pada sejarah Perang Dingin. Selama puluhan tahun, Amerika Serikat dan Uni Soviet terlibat perlombaan rudal yang membuat Eropa menjadi garis depan konfrontasi nuklir. Ketika rudal-rudal jarak menengah ditempatkan di benua tersebut, waktu peringatan sebelum serangan menjadi sangat singkat.

Dalam beberapa skenario, para pemimpin hanya memiliki hitungan menit untuk mengambil keputusan yang dapat menentukan nasib jutaan manusia.

Ketakutan itu belum sepenuhnya hilang. Bagi Rusia, penempatan Tomahawk bukan hanya soal satu jenis senjata. Moskow melihatnya sebagai bagian dari perubahan keseimbangan militer yang dapat memperbesar kemampuan serangan NATO di dekat wilayahnya.

Kekhawatiran tersebut semakin besar karena rudal jelajah modern mampu menyerang dengan akurasi tinggi terhadap sasaran strategis yang sangat bernilai.

Karena itu, setiap pembicaraan tentang Tomahawk hampir selalu diikuti ancaman balasan dari Rusia. Moskow sendiri telah menempatkan rudal Iskander di Kaliningrad, wilayah eksklave Rusia yang berada di antara Polandia dan Lituania.

0 Response to "Takut Rusia, AS dilaporkan batal kirim rudal Tomahawk ke Jerman"

Posting Komentar