Literasi gizi di balik sepiring MBG
Memberikan pemahaman kepada anak bahwa makan bukan sekadar kenyang menjadi upaya yang harus diselipkan tersendiri dalam agenda program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Sebab program ini sejatinya bukan sekadar bagi-bagi makanan tapi di dalam sepiring makanan dan segelas minuman terdapat kebutuhan untuk tumbuh, belajar, membangun daya tahan tubuh, sekaligus membentuk kebiasaan makan yang dapat terbawa hingga dewasa.
Oleh karena itu, keputusan Badan Gizi Nasional (BGN) untuk tidak menggunakan susu kental manis dalam menu MBG menjadi salah satu hal yang mengandung makna literasi pangan sehat.
Kebijakan tersebut dapat menjadi momentum memperkuat literasi gizi masyarakat, terutama dalam memahami perbedaan antara makanan yang memberikan energi dan makanan yang mampu memenuhi kebutuhan zat gizi secara lebih seimbang.
Kebijakan itu diputuskan dalam rapat koordinasi BGN bersama Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Kementerian Pertanian, Kementerian Kesehatan, Kementerian Perindustrian, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), serta asosiasi industri dan koperasi susu.
BGN kemudian menegaskan bahwa produk minuman susu, minuman mengandung susu, minuman rasa susu, maupun susu kental manis tidak digunakan dalam menu MBG. Keputusan tersebut menjadi penting dalam pemenuhan standar gizi program, bukan sebagai penilaian bahwa suatu produk pangan tidak boleh dikonsumsi sama sekali.
Memang faktanya edukasi pangan sehat itu saat ini mendesak dilakukan. Apalagi karena setiap produk pangan memiliki karakteristik, kandungan, fungsi, dan cara konsumsi yang berbeda. Kesadaran untuk menempatkan suatu produk sesuai peruntukannya merupakan bagian dari literasi gizi yang perlu terus diperkuat.
Secara teknis, kental manis dibuat dengan menghilangkan sebagian air dari campuran susu dan menambahkan gula hingga mencapai kadar tertentu.
Berdasarkan ketentuan BPOM, produk kental manis digunakan sebagai topping, pelengkap, atau bahan baku dalam pengolahan makanan dan minuman. Produk tersebut bukan ditujukan sebagai minuman pemenuh kebutuhan gizi tunggal bagi anak.
Persoalannya memang bukan semata terletak pada sebuah produk, melainkan bagaimana masyarakat memahami dan mengonsumsinya.
Kata “susu” yang selama bertahun-tahun akrab dengan gambaran makanan bergizi dapat menimbulkan persepsi bahwa setiap produk yang menggunakan istilah tersebut mempunyai fungsi dan kandungan gizi yang sama.
Padahal, masyarakat kini berhadapan dengan pilihan pangan yang semakin beragam. Kemampuan membaca label, memahami komposisi, memperhatikan kandungan gula, serta mengenali fungsi sebuah produk menjadi keterampilan yang semakin dibutuhkan keluarga.
Kebutuhan gizi
Dokter Spesialis Gizi Klinik RS Qolbu Insan Mulia Batang dr Osa Endiputra, MSc, SpGK, AIFO-K mengingatkan agar masyarakat tidak menyamakan produk kental manis dengan susu yang digunakan untuk membantu memenuhi kebutuhan gizi anak.
Kandungan gula dalam produk tersebut lebih dominan dibandingkan zat gizi yang dibutuhkan untuk menunjang pertumbuhan dan perkembangan anak.
“Susu kental manis itu bukan susu. Hati-hati, susu kental manis itu bukan susu, itu gula. Gula bentuknya cair kental,” ujar Osa.
Ia menekankan hal ini sebagai pesan tentang pentingnya ketepatan konsumsi. Sebab persoalan gizi tidak hanya ditentukan oleh satu jenis makanan atau minuman, melainkan oleh pola konsumsi secara keseluruhan, jumlah yang dikonsumsi, keberagaman pangan, serta keseimbangan zat gizi yang diterima tubuh.
Konsumsi minuman tinggi gula secara rutin dapat meningkatkan risiko kelebihan berat badan, obesitas, kerusakan gigi, hingga penyakit tidak menular ketika anak memasuki usia dewasa. Kebiasaan mengonsumsi makanan atau minuman yang terlalu manis juga dapat membentuk preferensi rasa sejak usia dini.
Ketika anak terbiasa dengan rasa manis yang kuat, makanan dengan rasa yang lebih alami dapat menjadi kurang menarik. Dalam kondisi tertentu, kebiasaan tersebut dapat memengaruhi penerimaan anak terhadap pilihan pangan lain yang justru diperlukan untuk memenuhi kebutuhan gizinya.
Hal lain yang perlu dipahami adalah bahwa rasa kenyang tidak selalu menunjukkan kecukupan gizi.
Gula merupakan sumber energi, tetapi pertumbuhan anak membutuhkan asupan yang jauh lebih beragam. Protein, vitamin, mineral, lemak, karbohidrat, serta zat gizi lainnya mempunyai fungsi masing-masing dalam menopang pertumbuhan fisik maupun perkembangan kognitif.
Maka dari itu, penggunaan kental manis sebagai minuman harian pengganti sumber gizi lain berpotensi menimbulkan kekeliruan dalam pola konsumsi.
Anak dapat memperoleh kalori dan merasa kenyang, sementara ruang untuk mengonsumsi pangan dengan kandungan protein, vitamin, dan mineral yang lebih memadai menjadi berkurang.
Persoalan tersebut harus terus menjadi perhatian ketika Indonesia masih berupaya memperbaiki kualitas gizi anak, termasuk menangani stunting dan pada saat bersamaan menghadapi meningkatnya risiko kelebihan berat badan serta penyakit tidak menular.
Pendidikan gizi
Tantangan gizi saat ini tidak lagi dapat dilihat hanya dari kekurangan makanan, tetapi juga dari kualitas, keberagaman, dan keseimbangan konsumsi.
MBG ke depan menjadi kebijakan strategis yang salah satunya bisa menjadi sarana pendidikan gizi. Program tersebut tidak hanya berhubungan dengan berapa banyak makanan yang disediakan, tetapi juga bagaimana makanan yang disajikan dapat memperkenalkan pola konsumsi yang lebih baik kepada anak.
Meskipun memang pendidikan gizi tidak cukup dilakukan melalui menu. Keluarga tetap menjadi lingkungan terpenting dalam membentuk kebiasaan makan.
Orang tua mempunyai peran besar dalam memperkenalkan keberagaman pangan, membiasakan anak mengenali rasa alami makanan, serta memberikan pemahaman sederhana mengenai alasan tubuh membutuhkan jenis makanan yang berbeda.
Larangan atau pembatasan tanpa pengetahuan hanya akan menghasilkan kepatuhan sementara. Sebaliknya, pemahaman dapat membangun kebiasaan yang bertahan lebih lama.
Jadi kebijakan mengenai menu MBG idealnya berjalan beriringan dengan penguatan edukasi mengenai gizi seimbang kepada anak, orang tua, sekolah, dan masyarakat.
Literasi gizi disadari kemudian merupakan bentuk pemberdayaan. Masyarakat yang memahami pangan tidak mudah menentukan pilihan hanya berdasarkan nama produk, kemasan, rasa, ataupun kebiasaan.
Mereka mempunyai kemampuan untuk membaca, membandingkan, kemudian memilih berdasarkan kebutuhan.
Dari sini, keputusan mengenai susu kental manis dapat memberikan pelajaran yang lebih besar. Sebab perbaikan gizi bangsa tidak selalu dimulai dari langkah yang rumit.
Namun bisa saja berawal dari kemampuan membedakan antara kenyang dan bergizi, memahami fungsi sebuah produk, membaca kandungan pangan, serta membiasakan anak menikmati makanan yang beragam dan seimbang.
Meja makan bukan sekadar tempat memenuhi rasa lapar, tapi di tempat itulah pengetahuan mengenai pangan dapat diperkenalkan, kebiasaan dibentuk, dan pilihan-pilihan sehat mulai dipelajari.
Ketika anak memahami sejak dini bahwa tubuh membutuhkan lebih dari sekadar makanan yang enak dan mengenyangkan, maka fondasi kesehatan yang baik sedang dibangun dan ditradisikan. Dan dari keputusan-keputusan kecil di meja makan itulah kualitas generasi masa depan ikut ditentukan.
0 Response to "Literasi gizi di balik sepiring MBG"
Posting Komentar