Pasang Iklan Gratis

Harga aluminium meroket, Indonesia gandakan konsumsi batu bara

 Perang Iran mengganggu pasokan aluminium global dan mendorong harga naik. Indonesia melihat peluang untuk memperbesar produksi hingga 2030, tetapi ekspansi smelter bertenaga batu bara memicu kekhawatiran lingkungan.

Indonesia berambisi meningkatkan produksi aluminium ketika perang Iran mengganggu pasokan global dan mendorong kenaikan harga logam tersebut. Untuk mempercepat pembangunan smelter, Indonesia mengandalkan cadangan batu bara yang melimpah, meski langkah itu berlawanan dengan upaya mengurangi emisi karbon.

Gangguan produksi di Timur Tengah membuat kawasan Asia Tenggara berpeluang mengambil alih sebagian pasokan aluminium dunia. Timur Tengah biasanya menghasilkan sekitar 9% aluminium dunia, tetapi produksi kawasan tersebut diperkirakan turun 44% tahun ini dibandingkan dengan 2025, menurut lembaga informasi komoditas Fastmarkets.

Perang Iran dorong peluang baru

Kekurangan energi membuat Emirates Global Aluminium membatalkan sejumlah kesepakatan, sementara Qatar Aluminium Ltd. memangkas produksi. Serangan Iran juga merusak fasilitas Aluminium Bahrain.

Sebelum perang Iran, aluminium diperdagangkan pada kisaran US$3.150–3.250 (sekitar Rp55,9–57,7 juta) per metrik ton. Harga kemudian melonjak hingga US$3.780 (sekitar Rp67,1 juta) pada Juni dan kini berada di sekitar US$3.400 (sekitar Rp60,3 juta)

Andy Farida dari Fastmarkets mengatakan bahwa ketidakpastian pasokan mendorong konsumen untuk mencari alternatif.

“Ketika pasokan begitu tidak pasti, pengguna akhir mencari alternatif,” kata Farida. “Perang tersebut benar-benar mempercepat transformasi ini dan menempatkan Indonesia di peta.”

Indonesia berencana meningkatkan kapasitas produksinya secara besar-besaran. Menurut Centre for Research on Energy and Clean Air (CREA), produksi alumina Indonesia ditargetkan meningkat empat kali lipat menjadi 32,5 juta metrik ton pada akhir dekade ini. Produksi aluminium juga ditargetkan naik dari sekitar 1 juta metrik ton pada 2025 menjadi 14,5 juta metrik ton pada 2030.

Smelter baru bergantung pada batu bara

Peningkatan produksi tersebut membutuhkan energi dalam jumlah besar. Proses produksi aluminium dimulai dari penambangan bijih bauksit yang kemudian dimurnikan menjadi alumina sebelum dilebur menjadi aluminium.

CREA mencatat 32 proyek pembangkit listrik tenaga batu bara off-grid yang sedang dipertimbangkan untuk secara khusus memasok listrik bagi smelter aluminium. Fasilitas semacam ini dikenal sebagai “captive coal”.

Data publik mengenai emisi dari pembangkit tersebut masih terbatas, kata Syahdiva Moezbar dari CREA di Jakarta.

“Ledakan captive coal di seluruh Indonesia pada dasarnya tidak dapat terlacak. Itulah yang membuatnya sangat mengkhawatirkan,” ujarnya.

Langkah tersebut juga berlawanan dengan janji Indonesia untuk mengurangi penggunaan batu bara, bahan bakar fosil utama yang menghasilkan polusi paling tinggi dan menjadi sumber emisi pemanasan global.

Industri aluminium sendiri menyumbang sekitar 2% dari emisi gas rumah kaca global setiap tahun, setara dengan sekitar 1,1 miliar ton karbon dioksida ekuivalen, menurut World Economic Forum.

Indonesia memiliki mitra penting dalam ekspansi tersebut, yakni Cina. Perusahaan-perusahaan Cina telah berinvestasi dalam sekitar tiga perempat dari proyek aluminium yang direncanakan di Indonesia. Menurut CREA, investasi Cina di sektor aluminium Indonesia saat ini mencapai antara 5,5 miliar dan 6 miliar dolar AS dan diperkirakan akan meningkat menjadi 30 miliar dolar AS pada 2030.

Menurut Putra Adhiguna dari Energy Shift Institute di Jakarta, ekspansi perusahaan Cina ke Indonesia berkaitan dengan pembatasan produksi aluminium di dalam negeri Cina yang diberlakukan sejak 2017.


0 Response to "Harga aluminium meroket, Indonesia gandakan konsumsi batu bara"

Posting Komentar